BUDAYA SEKOLAH SENSITIF GENDER
Pengantar
Sekolah sebagai organisasi maka sekolahpun memiliki budaya sekolah. Pemahaman tentang budaya sekolah sesungguhnya tidak lepas dari konsep budaya itu sendiri yang merupakan satu terminology yang banyak digunakan dalam bidang antropologi. Marvin Bawer seperti disampaikan Alan Cawling dan Philip James (1996) di kutip oleh Mien Ratoe Oedjoe (2009), budaya sebagai cara melakukan hal-hal di sini.
Budaya sekolah dapat juga diartikan sebagai nilai/kebiasaan yang mengikat komponen-komponen yang ada dalam sekolah yang terjadi melalui interaksi satu sama lain dalam rangka meningkatkan kualitas sekolah. Kualitas sekolah dapat dibangun melalui dua strategi utama yaitu strategi dimensi structural dan strategi dimensi budaya. Penerapan strategi structural sudah sering dilakukan misalnya pelatihan guru, tetapi hasilnya tidak terlalu banyak mempengaruhi perubahan terhadap kualitas secara melejit. Beberapa penelitian dalam bidang pendidikan memberi arah bahwa budaya yang dilaksanakan oleh satuan-satuan pendidikan atau unit-unit kecil menjadi factor penentu dalam meningkatkan kegiatan sekolah untuk mencapai kulitas yang baik.
Pengertian Budaya Sekolah Responsif Gender
Budaya sekolah responsif gender adalah seluruh pengalaman psikologis warga sekolah (sosial, emosional, dan intelektual) yang diserap oleh mereka selama berada dalam lingkungan sekolah yang mencerminkan kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan (IAPBE, 007). Budaya sekolah juga dipahami sebagai personaliti atau keperibadian sekolah yang mempengaruhi kinerja warga sekolah.
Dalam rangka membangun manajemen berbasis sekolah, budaya mengambil peran yang cukup penting untuk menciptakan sekolah efektif. Hubungan timbal balik antara budaya sekolah dengan manajemen sekolah dapat diperhatikan pada kekuatan manajemen dalam menkondisikan melalui daya tekan yang sangat kuat seperti diberlakukan peraturan-peraturan dan mengontrol penerapannya dengan konsekwen dan konsisten. Sedangkan budaya sekolah yang responsif gender dapat memberi daya dorong untuk mewujudkan sekolah yang kondusif sehingga warga sekolah dengan penuh kesadaran dapat mendukung jalannya manajemen sekolah, sehingga sekolah efektif mudah terwujud. Adapun unsur-unsur yang membentuk budaya antara lain :
1. Norma : Standar yang ditetapkan bersama warga sekolah sebagai garis pedoman aktivitas warga sekolah. Norma biasanya tidak tertulis, tetapi dipedomani. Misalnya, dilarang berbicara ketika sedang mengikuti ibadat.
2. Tradisi : kebiasaan yang dilakukan oleh hampir semua warga sekolah secara turun temurun, yang dinilai baik oleh warga sekolah. Misalnya setiap warga sekolah yang berulang tahun ditulis pada papan pengumuman untuk kemudian didoakan pada ibadat pagi.
3. Nilai : Standar kebenaran yang dimiliki, dimengerti dan dihormati warga sekolah.Nilai berfungsi mengarahkan warga agar memberi perhatian kepada tujuan yang harus mereka capai.
4. Filosofi : seperangkat pedoman hidup berorganisasi atau nilai yang dipegang teguh warga sekolah.
Bagaimana menilai budaya sekolah responsif gender?
Unsur-unsur budaya tidak akan nampak dalam perilaku keseharian dalam berinteraksi di sekolah misalnya melalui interaksi yang menghambat atau mempromosi keadilan dan kesetaraan gender. Wujud budaya dalam interaksi praktis dapat diamati melalui empat lapisan budaya kelembagaan/sekolah, yang diilustrasikan sebagai : bawang hofstede.
Lapisan 1 : Simbol-simbol dan artifak-artifak adalah : kata-kata (bahasa), gambar-gambar, atau obyek-obyek yang bermakna secara khusus bagi warga sekolah perempuan dan laki-laki.
Lapis 2 : Para pejuang, pahlawan, pemimpin perempuan dan laki-laki yang nyata memiliki sifat-sifat yang sangat dihargai oleh warga sekolah perempuan dan laki-laki, dan mereka mempersonifikasikannya.
Lapis 3 : ritual adalah aktivitas-aktivitas kolektif yang tidak secara jelas diperlukan dalam merealisasi sasarn-sasaran organisasi tetapi dianggap penting secara sosial. Ritual adalah praktek-praktek yang melambangkan bagaimana waarga sekolah perempuan dan laki-laki berinteraksi sosial.
Lapis 4 : Nilai-nilai yang dianut oleh warga sekolah peempuan dan laki-laki dalam melakukan aktivitas tertentu dengan cara tertentu.
Analisis budaya adalah analisis situasi umum, perilaku dominan dan kebiasaan yang diterima dan dianggap wajar yang membentuk pola relasi antar warga sekolah perempuan maupun laki-laki dan etos kerja sekolah. Budaya sekolah yang responsif gender meliputi:
1. Ekspresi verbal dapat ditemukan pada ungkapan kata-kata yang dapat menciptakan kebiasaan baik yang menghargai dan menghormati laki-laki maupun perempuan dalam lingkungan sekolah.
2. Ekspresi non-verbal dalam ragam bentuk seperti sikap perilaku, ekspresi tubuh, simbol-simbol yang mendukung dan memotivasi seseorang untuk memberikan apresiasi pada warga sekolah baik laki-laki maupun perempuan.
3. Lingkungan internal dan ekternal yang kondusif untuk laki-laki dan perempuan dalam beraktifitas di lingkungan sekolah, untuk mendukung tercapainya sekolah efektif.
4. Kultur birokrasi yang dibangun bersifat egaliter, bersahabat, demokratis, akomodatif dan toleran
Contoh : Budaya Sekolah Yang Responsif Gender
Tuturan Adat Yang Mendukung Budaya Sekolah Yang Responsif Gender
Tarian Kebalai :
Tarian sebagai wujud syukur atas berbagai momen seperti kematian, pinangan, habis panen. Dalam melaksanakan tarian ini semua yang mengambil bagian saling berangkulan sebagai tanda persahabatan.
Adopsi tarian Kebalai ke Sekolah :
1. Sebagai bentuk ucapan selamat datang kepada peserta didik laki-laki dan perempuan yang baru
2. Tanda perpisahan untuk perpisahan lulusan
3. Sebagai tanda penyambutan tamu sekolah
Hikmah tarian : Memberikan pemahaman kepada peserta didik perempuan dan laki-laki bahwa dalam masyarakat belajar tidak ada perbedaan hak antara peserta didik perempuan dan laki-laki.
Natoni:
Syair pada ceremonial tertentu misalnya acara penyambutan tamu.
Contoh Natoni : Untuk acara penyambutan wisudawan/wisudawati
Ama, aina, Feto ma nao, Olif, Tataf, Hit ok oke es tabu bi i.
Afi Unu nembes ma faijes hit ta tatmonit bi mes okan, fun kata hin fa sa’ne es le skol.Maut neon ini tabu ini Uis Neno apinat aklahat, am fai nekit nekak ma anso he ta skol. Aina, Ama plenat na neu kit lalan, am lulun kit he ta skol.
Neu hit Aina, Au Ama hit ok oke tabuaben he tam lile, tseum hit an hi ne es na sop sin na skol, na sop sin atu be.
Aina, Ama hit ok oke, ta tuina Manekan Uis Nenoesa fe lasi kninoneu hit ana sin na sop toni ma lasi uap kase. nane te hit an sin an feto ma an mone, sin an tekan lanan meusine not kit paku be hen ta’na mes okan, he natan neuman sina nai kat mono ten.
Neno ije het tamlile, mes au seon, au basan neu hit ok oke es ta bua bi bale ma sepe ihe nati meu man sine, muin ten amfeto, ma an mone na skolan ten. Fun nan sa henat an moinka naleok, oke am sa a moinken naon mat.
Terjemahan Natoni:
Bapak, Ibu, Adik, Kakak yang hadir ditempat ini. Hari kemarin kita berada dalam kubangan atau kungkungan kebodohan. Tetapi hari ini ditempat ini, kita semua sehati, sejiwa boleh bersenang , karena kedua anak kita laki-laki dan perempuan ini, sudah menyelesaikan atau mengakhiri pendidikan mereka.
Bapak, ibu, kita semua, kedua anak kita telah membuka jalan, menunjuk jalan terang pendidikan. Karena atas kuasa Tuhan Yang Maha Terang. Olah karena itu, kiranya contoh yang telah ditunjukkan oleh kedua anak kita, laki-laki dan perempuan, jangan hanya sampai di sini, melainkan besok lusa atau kedepan anak-anak kita laki-laki dan perempuan yang lain menyusul untuk melanjutkan pendidikan.
Demikian sepatah kata ini
Hikmah : Memberi kesempatan kepada laki dan perempuan untuk belajar menutur istilah adat.

